BLOX
XIII
KEPERAWATAN KOMUNITAS
“ KONSEP KELUARGA DAN KEPERAWATAN
KELUARGA”
2015
Sasbel 1 ( menjelaskan tentang defenisi keluarga)
A.
Defenisi keluarga
1. Departement
kesehatan RI (1988)
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat
yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal
/ disuatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
2. Salvicion
G bailon dan aracelis maglaya (1989)
Keluarga adalah dua atau lebih dari
individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan, atau
pengangkatan dan mereka hidup dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama
lain, dan di dalam nya memiliki peran nya masing-masing menciptakan serta
mempertahankan kebudayaan.
3. Friedman
(1998)
Keluarga merupakan kesatuan dari
orang- orang yang terikat dalam perkawinan, ada hubungan darah, atau adopsi dan
tinggal dalam satu rumah.
4. Stuart
(icn,2001)
Lima hal penting yang ada pada
defenisi keluarga:
·
Keluarga adalah suatu
sistem atau unit
·
Komitmen dan
keterikatan antar anggota keluarga yang meliputi kewajiban di masa yang akan
datang
·
Fungsi keluarga dalam
pemberian perawatanmeliputi perlindungan, pemberian nutrisi, dan sosialisasi
untuk seluruh anggota keluarga.
·
Anggota-anggota
keluarga mungkin memiliki hubungan dan tinggal bersama atau mungkin juga tidak
ada hubungan dan tinggal terpisah.
·
Keluarga mungkin
memiliki anak atau mungkin juga tidak.
Kesimpulan:
keluarga merupakan :
·
Unit terkecil
masyarakat
·
Terdiri atas dua orang
atau lebih
·
Adanya ikatan
perkawinan dan pertalian darah
·
Hidup dalam suatu rumah
tangga
·
Dibwah asuhan seorang
kepala rumah tangga
·
Berinteraksi diantara
sesama anggota keluarga
·
Setiap anggota keluarga
mempunyai peran masing-masing
·
Menciptakan ,
mempertahankan suatu kebudayaan.
Sumber /referensi:
·
dasar-dasar kesehatan masyarakat , drs. Nasrul
effendy(penulis), EGC jakarta 2012.
·
Tuntunan praktis askep
keluarga, penulis santun setiawati dan agus citra dermawan, rizqi
press(penerbit), 2005 bandung.
Sasbel 2 (
menjelaskan tentang tipe keluarga)
1. Tradisional
a. The
nuclear family ( keluarga inti)
Keluarga yang terdiri dari
suami,istri dan anak kandung (anak adopsi)
b. Keluarga
usila
Keluarga yang terdiri dari suami
istri yang sudah tua dengan anak yang sudah memisahkan diri.
c. The
extended family( keluarga luas atau besar)
Keluarga inti ditambah dengan
keluarga lainyang mempunyai hubungan darah, misalnya kakek, nenek, bibi dan
paman.
d. The
single- parent family( keluarga duda /janda)
Keluarga yang terdiri dari satu
orang tua, ( ayah/ibu) dengan anak. Hal ini biasa nya terjadi melalui proses
perceraian, kematian,dan di tinggalkan.
e. Commuter
family
Kedua orng tua bekerja di tempat
yang berbeda, tetapi salah satu kota tersebut sebagai tempat tinggal dan orang
tua yang bekerja dota bisa berkumpul pada anggota keluarga pada saat akhir
pekan ( week-end)
f. The
single adult living alone/ single adult family
Keluarga yang terdiri dari orang
dewasa yang hidu sendiri karena pilihan nya atau berpisahan ( separasi)
seperti: perceraian, atau di tinggal mati.
2. Non
trdisional
a. The
ummaried teenage mother
Keluara yang terdiri dari orang tua
( terutama ibu) dengan anak dari hubungan saudara, yang hidup dalam satu rumah
, sumber dan fasilitas yang sma, pengalaman yang sama, sosialisasi anak dengan
melalui aktifits kelompok atau membesarkan anak bersama.
b. Commune
family
Beberapa pasangan keluarga ( dengan anaknya )yang tidak ada hubungan
saudara, yang hidup bersama dalam satu rumah , sumber dan fasilitas yang sama,
pengalaman yang sama, sosialisasi anak dengan melalui aktivitas kelompok/
membesarkan anak bersama.
c. Cohabitating
couple
Orang dewasa yang hidup
bersamadiluar ikatan perkawinankarena alasan tertentu.
d. Group-marriage
family
Beberapa orang dewasa yang menggukan
alaat-alat rumah tangga bersama, yang merasa telah saling menikah satu dengan
yang lain nya. Berbagi sesuatu, termasuk sexual dan membesarkan anak nya.
Sasbel 3 (
menjelaskan tentang struktur keluarga)
A.
Ciri-ciri struktur keluarga
a. Terorganisasi
Keluarga adalah cerminan sebuah
organisasi, dimana masing-masing anggota keluarga memiliki peran dan fungsinya
masing-masing sehingga tujuan keluarga dapat tercapai. Dan juga saling
berhubungan , saling ketergantungan antara anggota keluarga.
b. Ada
keterbatasan, dimana setiap anggota memiliki kebebasan tetapi mereka juga
mempunyai keterbatasan dalam menjalankan fungsi dan tugas nya masing-masing.
c. Adanya
perbedaan dan kekhususan, yaitu setiap anggota keluarga mempunyai peranan dan
fungsi nya masing-masing.
B.
Struktur keluarga
dibagi kepada tiga dominasi:
a. Dominasi
jalur hubungan darah
1. Patrilineal
Yaitu keluarga sedarah yang terdiri
atas sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu di
susun melalui jalur garis ayah.
2. Matrilineal
Yaitu keluarga sedarah yang terdiri
atas sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi dimana hubungan itu di susun
melalui jalur garis ibu.
b. Dominasi
keberadaan tempat tinggal
1. Patrilokal
Yaitu sepasang suami istri yang
tinggal bersama keluarga sedarah suami.
2. Matrilokal
Yaitu sepasang suami istri yang
tinggal bersama keluarga sedarah istri.
c. Dominasi
pengambilan keputusan
1. Patriakal
Yaitu dominasi pengambil keputusan
ada pada pihak suami
2. Matriakal
Dominasi pengambil keputusan ada
pada pihak istri.
C.
Menurut friedman( 1998)
struktur keluarga terdiri atas:
1. Struktur
pola dan proses komunikasi Dikatakan berfungsi apabila dilakukan secara jujur,
terbuka, melibatkan emosi, konflik selesai dan ada hierarki kekuatan.
2. Struktur
peran
Yaitu serangkaian prilaku yang
diharapkan sesuai dengan posisi sosial yang diberikan .
3. Struktur
kekuatan
Yaitu kemampuan dari individu untuk
mengontrol, memengaruhi, atau mengubah prilaku orang lain.
4. Struktur
nilai dan norma
Nilai yaitu sistem ide-ide sikpa
keyakinan yang mengikat anggota keluarga dalam budaya tertentu.
Norma yaitu pola prilaku yang diterima
pada lingkungan sosial tertentu, lingkungan keluarga,dan lingkungan
masyarakat sekitar keluarga.
Sumber / referensi : tuntunan
praktis askep keluarga, penulis: santun setiawati dan agus citra dermawan,
rizqi press(penerbit), 2002 bandung.
Sasbel 4 ( menjelaskan tentang fungsi
keluarga)
Menurut friedman (1998) fungsi keluarga
terbagi atas 5 yaitu:
1.
Fungsi afektif ( the
affctive function) adalah fungsi keluarga yang utama untuk mengajarkan segala
sesuatu untuk mempersiapkan anggota keluarga berhubungan dengan orang lain.
Fungsi ini dibutuhkan untuk perkembangan individu dan psikososial anggota
keluarga.
2.
Fungsi sosialisasi
yaitu:proses perkembangan dan perubahan yang dilalui individu yang menghasilkan
interaksi sosial dan belajarberperan dalam lingkungan sosialnya. Fungsi ini
berguna untuk membina sosialisasi pada anak, membentuk norma-norma tingkah laku
sesuai dengan tingkat perkembangan anak dan meneruskan nilai-nilai budaya
keluarga.
3.
Fungsi reproduksi ( the
reproduction function) adalah fungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga kelangsungan keluarga.
4.
Fungsi ekonomi ( the
economic function)yaitu keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga
secara ekonomi dan tempat untuk mengembangkan kemampuan individu untuk
meningkatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
5.
Fungsi perawatan atau
pemeliharaan kesehatan( the health care function ) adalah untuk mempertahankan
keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap memiliki produktivitas yang
tinggi .
Fungsi
ini di kembangkan menjadi tugas keluarga di bidang kesehatan.
Sasbel 5 Tahapan dan Tugas perkembangan Keluarga
Siklus tugas dan
perkembangna kelurga, menurut Evlin Duval :
1.
Pasangan
Pemula atau Pasangan Baru Menikah
Tahapan
ini dimulai saat dua insan dewasa mengikat janji melalui pernikahan dengan
landasan cinta dan kasih sayang. Tugas pada pada tahapan perkembangan keluarga
pemula antara lain :
·
Saling memuaskan antar
pasangan
·
Beradaptasi dengan
keluarga besar dari masing-masing pihak
·
Merencanakan dengan
matang jumlah anak
·
Memperjelas peran
masing-masing pasangan
2.
Keluarga
dengan menunggu keluarga anak
Tahapan
dan tugas perkembangan keluarga selanjutnya adalah keluarga dengan menunggu
kelahiran anak sebagai salah satu fungsi biologis yaitu melanjutkan keturunan.
Tugas keluarga pada tahapan ini antara lain : mempersiapakan biaya persalinan,
mempersiapkan mental calon orang tua, mempersiapkan berbagai kebutuhan anak.
3.
Keluarga
dengan mempunyai bayi
Tahapan
ini keluarga sudah mempunyai anggota keluarga baru yang tentunya memiliki tugas
antara lain :
·
Memberikan ASI sebagai
kebutuhan dasar bayi (minimal 6 bulan)
·
Memberikan kasih sayang
·
Mulai mensosialisasikan
dengan lingkungan keluarga besar masing-masing pasangan
·
Pasangan kembali
melakukan adaptasi karena kehadiran anggota keluarga termasuk siklus hubungan
sex
·
Mempertahankan hubungan
dalam rangka memuaskan pasangan.
4.
Keluarga
dengan anak Prasekolah
Tugas
yang dimiliki keluarga dengan anak prasekolah diantaranya :
·
Menanamkan nilai-nilai
dan norma kehidupan
·
Mulai menanamkan keyakinan
beragama
·
Mengenalkan kultur
keluarga
·
Memenuhi kebutuhan
bermain anak
·
Membantu anak dalam
bersosialisasi dengan lingkungan sekitar
·
Menanamkan tanggung
jawab dalam lingkungan kecil
·
Memperhatikan dan
memberikan stimulus bagi pertumbuhan dan perkembangan anak prasekolah
5.
Keluarga
dengan anak sekolah
Tugas
yang dimiliki keluarga sengan anak usia sekolah antara lain :
·
Memenuhi kebutuhan
sekolah anak baik alat-alat sekolah maupun biaya sekolah
·
Membiasakan belajar
teratur
·
Memperhatikan anak saat
menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya
·
Memberikan pengertian
pada anak bahwa pendidikan sangat penting untuk masa depan anak
·
Membantu anak dalam
bersosialisasi lebih luas dengan lingkungan sekitarnya.
6.
Keluarga
dengan anak remaja
Pada
tahapan ini sering kali ditemukan perbedaan pendapat antara orang tua dan anak
remaja, apabila hal ini tidak diselesaikan akan berdampak pada hubungan
selanjutnya.
Tugas
keluarga pada tahapan ini antara lain :
·
Memberikan perhatian
lebih pada anak remaja
·
Bersama-sama
mendiskusikan tentang rencana sekolah ataupun kegiatan di luar sekolah
·
Memberikan kebebasan
dalam batasan tanggung jawab
·
Mempertahankan
komunikasi terbuka dua arah
7.
Keluarga
dengan melepaskan anak ke masyarakat
Remaja
yang akan beranjak dewasa harus sudah siap meninggalkan kedua orang tuanya
untuk memulai hidup baru, bekerja, dan bekeluarga, sehingga tugas keluarga pada
tahapan ini antara lain :
·
Mempertahankan
keintiman pasangan
·
Membantu anak untuk
mandiri
·
Mempertahankan
komunikasi
·
Memperluas hubungan
keluarga antara orang tua degan menantu
·
Menata kembali peran
dan fungsi keluarga setelah ditinggalkan anak-anak
8.
Keluarga
dengan tahapan berdua kembali
Tugas
bagi keluarga setelah ditinggal pergi anak-anaknya untuk memulai kehidupan baru
antara lain :
·
Menjaga keintiman
pasangan
·
Merencanakan kegiatan
yang akan datang
·
Tetap menjaga
komunikasi dengan anak-anak dan cucu
·
Memperhatikan kesehatan
masing-masing pasangan
9.
Keluarga
dengan tahapan masa tua
Masa
tua bisa dihinggapi perasaan kesepian, tidak berdaya, sehingga tugas keluarga
pada tahap ini adalah :
·
Saling memberikan
perhatian yang menyenangkan antar pasangan
·
Memperhatikan kesehatan
masing-masing pasangan
·
Merencanakan kegiatan
untuk mengisi waktu tua seperti dengan berolahraga, berkebun, mengasuh cucu.
Pada
masa tua pasangan saling mengingatkan akan adanya kehidupan yang kekal setelah
kehidupan ini.
Referensi : buku Tuntutan praktis asuhan keperawatan
keluarga
Sasbel 6
Tugas-tugas
kesehatan keluarga
Menurut frietman
( 1998 ) tugas keluarga dalam bidang kesehatan adalah:
1.
Mengenal gangguan
perkembangan kesehatan setiap angota keluarga
2.
Mengambil keputusan
untuk melakukan tindakan yang tepat
3.
Memberikan keperawatan
kepada angota keluargannya yang sakit,dan yang tidak dapat membantu dirinnya
sendiri, karena cacat atau usiannya yang berlanjut
4.
Mendifikasi lingkungan
(mempertahankan Susana di rumah) yang mengguntungkan kesehatan dan perkembangan
keperibadiaan anggota keluarga
5.
Mempertahankan hubungan
timbale balik antara keluarga dan lembaga-lembaga kesehatan yang menunjukan
pemenfaatan dengan baik fasilitas-fasilitas kesehatan yang ada.
Kasus 7
Keluarga
sejahtra : keluarga yang di bentuk atas dasar perkawinan yang sah mampu
memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materi yang layak, bertaqwa kepada tuhan
dan memiliki hubungan, serasi, selaras dan seimbang antara anggota keluarga dan
masyrakat dan lingkungan
( A. mungit
1996)
Tujuan :
Ø Meningkatkan
kemampuan keluarga tentang masalah yang dihadapi
Ø Meningkatkan
kemampuan keluarga dalam menganalisa potensi dan peluang yang dimiliki
Ø Kemampuan
masyrkat dalam memecahkan masalah secara mandiri
Ø Kemampuan
gotong royong dan stia kwan social dalam membantu keluarga prasejahtra untuk
meningkatkan kesejahtraan
Tahap-tahapan keluarga sejahtra ;
Ø Keluarga
prasejahtra
Keluarga
yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasar secara minimal, yaitu kebutuhan
pengajaran agama, panggan, sandang papan dan kesehatan
Ø Keluarga
sejahtra tahap 1
Keluarga2
yang dapat memnuhi kebutuhan dasarnya secara minimal, tetapi blum dapat
memenuhi keseluruhan kebutuhan social psikologis .
Seperti
: kebutuhan akan pendidikan, KB ,
intraksi dalam keluarga
Ø Keluarga
sejahtra tahap II
Keluarga2
yang disamping dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, juga telah dapat memenuhi
seluruh kebutuhan social pisikologisnya
Ø Kebutuhan
sejahtra III
Keluarga2
yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan dasar, kebutuhan social psikologis
dan kebutuahan pengembagan.
Ø Keluarga
sejahtra tahap IV
Keluarga2
yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhannya baik yang bersifat dasar, social
psikologisnya
Indicator
keluarga sejahtra :
1. Keluarga
sejahtra tahap 1
a.
Melaksanakan ibadah
menurut agama yang dianut masing2
b.
Makan dua kali sehari
atau lebih
c.
Pakaiyan yang berbeda
untuk berbagi keperluan
d.
Rumah sebagai lantai
bukan tanah
e.
Kesehatan (bila anak
sakit atau PUS ingin ber-KB dibawa/petugas kehatan)
2. Keluarga
sejahtra tahap 11
Bila
keluarga suadah mampu melaksanakan indicator pada keluaraga tahap 1 dan mampu
melaksakan indicator sebagai berikut :
a.
Anggota keluarga
melaksanakan ibadah secara teratur menurut agama yang dianut masing2
b.
Makan daging/ikan/telur
sebagai lauk pauk minimal satu kali dalam seminggu
c.
Memperoleh pakaian abru
dalam satu tahun terakhir
d.
Luas lantai tiap
penghuni rumah 8 karakter
e.
Anggota keluarga sehat
dalam 3 bulan terakhir, sehingga dapat melaksanakan peran dan fungsinya
masing-masiang
f.
Minimal satu anggota
keluarga 15 tahun keatas mempunyai
penghasialan yang tetap
g.
Bias baca tulis latin
bagi seluruh anggota keluarga, yang berumur 10-60 tahun
h.
Anak usia sekolah (7-10
tahun) bersekolah
i.
Anak hidup dua atau
lebih, keluarga yang masih dalam masa pasangan usia subur saat ini memakai alat
kontrasepsi
3. Keluarga
sejahtra tahap III
Bila
keluarga sudah mampu melaksanakan indicator pada keluarga sejahtra tahap 1 dan
sejahtra tahap II serta sudah mampu melaksanakan indicator sebagai berikut :
a.
Upaya keluarga untuk
meningkatkan dan menambah pengetahuan agama
b.
Keluarga mempunyai
tabugan
c.
Makan bersama minimal
sekali sehari
d.
Ikuti serta dalam
kegiatan masyrkat
e.
Reaksi bersama minimal
6 bulan sekali
f.
Memperoleh berita dari
surat kabar, TV dll
g.
Anggota keluarga mampu
mengunakan sarana trasportasi
4. Keluarga
sejahtra tahap IV
Bila
keluarga telah mampu memenuhi kebutuhan pada keluarga sejahtra tahap 1,II,
tahap III dan sudah mampu melaksanakan indicator sebagai berikut :
a.
Memberikan sumbangan
secara teratur dan sukarela dalam bentuk menterial kepada masyrakat
b.
Aktif sebagai pengurus
dalam kegiatan kemasyrakaan atau yayasan sosial
SASBEL 8: ADI
WIJAYANTO
Referensi: Buku Ilmu Keperawatan Komunitas Pengantar dan
Teori.
Penerbit:
SALEMBA MEDIKA, 2009
KONSEPTUAL MODEL
KEPERAWATAN KELUARGA
Model
keperawatan adalah jenis model konseptual yang menerapkan kerangka kerja
konseptual terhadap pemahaman keperawatan dan bimbingan praktik keperawatan. Model
konseptual keperawatan menguraikan situasi terjadi dalam suatu lingkungan yang
berupa menciptakan perubahan yang adaptif. Macam macam model konseptual
keperawatan keluarga
1. Model
Konseptual lingkungan (FLORENCE NIGHTINGALE,1859)
Model ini menekankan
pengaruh lingkungan terhadap klien yang dikenal dengan istilah enviromental
model. Model konsep florence menempatkan lingkungan sebagai fokus asuhan
keperawatan dan keperawatan komunitas berupaya memberikan bantuan asuhan
keperawatan berupa pemberian udara bersih dan segar,penerangan (lampu),kenyamanan
lingkungan,mengatur kebersihan,keamanan,keselamatan,serta pemberian nutrisi
(gizi) yang adekuat. Pelaksanaannya di upayakan secara mandiri tanpa tergantung
pada profesi lain.
2. Model
Konseptual Keperawatan Mandiri (D.E OREM 1971)
Menurut OREM ,keperawatan mandiri
(self care) adalah suatu pelaksanaan kegiatan yang diperkasai dan dilakukan
oleh individu itu sendiri untuk memenuhi kebutuhan guna mempertahankan
kehidupan,kesehatan,kesejahteraan rakyat,baik dalam keadaan sehat maupun sakit.
Model
konseptual keperawatan mandiri di dasari oleh 6 pasal berikut ini:
1. keperawatan
mandiri didasarkan pada tindakan dimana manusia mampu melaksanakannya.
2.
Agensi keperawatan
/sebagai pedoman tindakan.
3.
Setiap orang
menghendaki keperawatan mandiri dan menjadi kebutuhan dasar manusia.
4.
Orang dewasa mempunyai
hak dan tanggung jawab untuk merawat diri sendiri dan orang lain untuk
memelihara kesehatan mereka agar tetap sehat.
5.
Keperawatan mandiri
akan meningkatkan harga diri seorang,sehingga mempengaruhi konsep diri.
6.
Perubahan tingkah laku
secara lambat dan terus menerus di dukung dari pengalaman sosial sebagai
hubungan interpersonal.
3. Model
Konseptual Keperawatan Sistem (KING I.M, 1971)
KING memandang keluarga sebagai
sistem sosial dan konsep utama dalam modelnya.
Keluarga diperlukan baik sebagai kontek maupun klien.
KING menjelaskan bahwa teori
pencapaian tujuan bermanfaat bagi perawat bila terpanggil untuk membantu
keluarga dan memelihara kesehatan mereka.
4. Model
Konseptual Keperawatan Adaptasi (ROY S.C 1976)
ROY menjelaskan bahwa keluarga dan
juga individu,kelompok,organisasi,sosial,serta komunitas dapat dijadikan unit
analisis dan fokus praktik keperawatan karena perawat mengkaji orang sebagai
sistem yang adaptif, mereka perlu mengkaji keluarga. Bila keluarga merupakan
fokus keperawatan intervensi keperawatan mempertinggi stimulasi (fokal,kontektual dan residual) untuk
menigkatkan adaptasi dan sistem keluarga (ROY 1903, hal 275)
5. Model
Konseptual Keperawatan Health Care Sistem (BETTY NEWMAN)
Model konsep ini merupakan model
konsep yang menggambarkan aktivitaskeperawatan yang ditujukan kepada penekanan
penurunan stress dengan cara memperkuat garis pertahanan diri, baik yang
bersifat flkesibel, normal maupun resisten dan pelayanan adalah komunitas.
6. Model
Konseptual Keperawatan Need Based (VIRGINIA HENDERSON 1996)
Adalah model konsep need based atau
aktivitas hidup sehari–hari dengan
memberikan gambaran tugas perawat.
Fungsi
unik perawat menurut modwel konseptual ini antara lain:
a. Membantu
individu, keluarga, dan masyarakat, baik sehat maupun sakit dalam menunjang
kesehatan.
b. Membantu
individu, keluarga dan masyarakat dalam melaksanakan program pengobatan yang
ditentukan dokter.
c. Perawat
sebagai tim kesehatan, bekerja sama dan saking membantu dalammerencanakan program
kesehatan secara menyeluruh.
7. Model
Konseptual Keperawatan Martha (E.ROGERS 1970)
Manusia
merupakan satu kesatuan yang utuh serta memiliki sifat dan karakter yang
berbeda.Teori ini dapat dipergunakan untuk mengidentifikasi perilaku yang
mereka kurang baik, maka dapat menurunkan derajat kesehatan dalam komunitas.
8. Model
Konseptual Keperawatan (JOHNSON)
Mengungkapkan pandangannya mengenai
keperawatan komunitas komunitas dengan menggunakan pendekatan sistem perilaku.
Dalam pendekatan ini individu dipandang sebagai sistem perilaku yang selalu
ingin mencapai keseimbangan dan stabilitas, baik dalam lingkungan internal
maupun eksternal.
9. Model
Konseptual Keperawatan (ORLANDO, 1972)
Jika perawat komunitas menggunakan
teori ORLANDO , diharapkan perawat mampu mengidentifikasi tingkat pemenuhan
kebutuhan mereka yang berbeda–beda tersebut. Untuk mewujudkan tersebut ada 3
hal yang harus diperhatikan yaitu perilaku klien, reaksi perawat, dan tindakan
perawat.
Sasbel
9 dan 10
![]() |

Konsep
keperawatan keluarga menurut Whall &
Fawcett yaitu membahas keluarga yang menyesuaikan dengan dalil
metaparadigma keperawatan, yaitu:
1.
Keperawatan keluarga
memerhatikan berbagai prinsip dan hukum
yang mengatur proses keluarga, kesejahteraan keluarga, dan fungsi optimal
keluarga dalam keadaan sakit dan sejahtera yang berbeda-beda.
2. Keperawatan
keluarga memerhatikan pola prilaku keluarga dalam interaksinya dengan
lingkungan, pada peristiwa kehidupan yang normal dan situasi kehidupan yang
kritis.
3.
Keperawatan keluarga
memerhatikan proses yang dapat memengaruhi perubahan positif pada status
kesehatan keluarga (Donaldson & Crowley, 1978; Gordner, 1980, dikutip oleh Whall & Fawcett, 1991b, hlm 3-4).
Ada 5 sifat
keluarga yang dijabarkan (Stuart, 2001)
1.
Keluarga merupakan unit
suatu sistem
2. Keluarga
mempertahankan fungsinya secara konsisten terhadap perlindungan, makanan dan
sosialisasi anggotanya.
3. Dalam
keluarga ada komitmen saling melengkapi antar anggota keluarga.
4. Setiap
anggota dapat/tidak dapat saling berhubungan dan dapat/tidak dapat tinggal
dalam satu rumah.
5.
Keluarga bisa memiliki
anak ataupun tidak.
![]() |
|||
![]() |
|||




99
1.
Peran perawat sebagai
pendidik/educator
Perawat memberikan
pendidikan kesehatan pada keluarga dalam rentang sehat sakit.
Contoh: Pendidikan
kesehatan tentang pentingnya imunisasi pada balita
2.
Peran perawat sebagai
penghubung/koordinator/kolaborator
Dalam menjalankan peran
ini, perawat mengkoordinasikan keluarga dengan pelayanan kesehatan.
Contoh: Perawat
membantu dan membimbing keluarga yang diketahui terserang TB untuk mendapatkan
pengobatan TB paru di puskesmas.
3.
Peran perawat sebagai
pelindung/advocate
Perawat memberikan
perlindungan atas kesamaan keluarga dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.
Contoh: Perawat
membantu keluarga dalam pengurusan surat keterangan tidak mampu dalam rangka
mendapatkan dana kesehatan melalui program pemerintah melalui jaring pengaman kesehatan
pada keluarga miskin.
4.
Perawat sebagai pemberi
pelayanan langsung
Perawat memberikan
pelayanan kesehatan langsung pada keluarga.
Contoh: Mengajarkan
pada keluarga pembuatan obat pereda batuk pilek dengan perasan jeruk nipis yang
dicampur madu.
5.
Peran perawat sebagai
konselor
Perawat memberikan
beberapa alternative pemecah masalah berkaitan dengan masalah yang dihadapi
keluarga tanpa harus ikut dalam pengambilan keputusan keluarga tersebut.
Contoh: Perawat
keluarga memberikan beberapa alternative alat kontrasepsi yang akan dipilih
pasangan muda, dengan keputusan tetap ada pada pasangan muda tersebut.
6.
Peran perawat sebagai
modifikator lingkungan
Contoh: Perawat
memberikan penjelasan berkaitan dengan bagaimana mencegah anak terkena ISPA
dengan tidak memberikan jajanan sembarangan, orang tua khususnya ibu membuat
makanan tambahan yang menarik dengan gizi seimbang.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar